seni post modern

Post-modern sebagai filsafat pemikiran akhirnya banyak mempengaruhi berbagai perkembangan kebudayaan, termasuk seni rupa. Dengan formalisme yang menjadi puncaknya, yang melulu hanya memikirkan pencarian bentuk-bentuk keindahan seperti pada gaya lukisan abstrak, sehingga seni dipahami sebagai sesuatu yang otonom dan universal, lepas dari hubungannya dengan agama, tradisi, dan sosial-politik, modernisme dianggap telah menjauhkan seni dengan konteks realitas masyarakatnya.
Di lain pihak, modernisme telah menyebabkan seni menjadi terkotak-kotak, seperti seni lukis, seni patung, seni grafis. Dan inilah yang lalu ditolak oleh seni-seni post-modern. Pencarian bentuk yang indah dan identifikasi-identifikasi seni tidak lagi menjadi perhatian. Bagi seni-seni post-modern, soalnya sekarang adalah bagaimana merepresentasikan seluruh gagasan dan mengkomunikasikannya pada publik.
Maka, seni-seni post-modern pun melabrak seluruh konvensi-konvensi seni modern. Dalam seni rupa, melukis bukan harus selalu di atas kanvas, melainkan juga bisa di atas aspal, bahkan kenyataan itu sendiri adalah kanvas yang bisa dilukisi. Demikian dengan seni patung yang melulu harus menggunakan bahan tanah liat, tapi juga tubuh si seniman itu sendiri.
Dengan kata lain, seni post-modern telah melenyapkan batas antara seni lukis, keramik, patung, grafis, bahkan batasan antara seni rupa, musik, sastra, tari, dan teater, Seni bagi mereka telah menjadi keseluruhan yang sifatnya total.Pablo Piccasso, dianggap sebagai titik putar dalam dunia seni yang menggeser dari seni mo­dern menuju kepada seni post modern. Piccasso hidup dengan mem­belah bentuk seni men­jadi dua format, yaitu sebelum 1907, dimana lukisannya masih ber­for­mat naturalisme dan im­pres­sio­nisme yang setelah itu menjadi seni yang obyektif dengan sedikit nuang­sa subyektif dan se­lan­jutnya berubah total menjadi seni subyektif (Cubisme), yang su­dah tidak dapat dilihat se­cara wa­jar lagi. Hal ini terjadi karena filsafat seni sudah bergeser total.
Setelah itu seluruh seni di abad 20 berubah total semangatnya men­jadi seni yang total subyektif dimana muncul tokoh yang bernama Salvador Dali de­ngan surealisme yang su­­dah me­­lampaui realisme. Dan akhirnya seni itu ber­kembang kepada abstrak dimana lukisan sudah be­nar-be­nar tidak dapat dimengerti se­cara wa­jar. Hal inilah yang membuat kita akhirnya jatuh da­lam subyek­tivitas total dimana su­dah terjadi kesenjangan relasi antara si pelukis dengan si pene­rima. Ini­lah format post modern yang disebut sebagai “The Dead of The Author Principle” yang ar­ti­­nya apabila telah membu­at sesuatu maka antara seniman dengan karyanya ser­ta pe­nerima su­dah putus hubungan sa­ma sekali dan setiap bebas berinterpretasi, se­mua­­nya me­­ru­pakan satu ungkapan sub­yektivitas yang tidak pernah mungkin bisa ditangkap oleh pe­­ne­ri­ma (me­tafora).
Beberapa contoh seni abstrak yang hanya diketahui maksudnya oleh sang seniman saja, sedangkan maksud seniman tidak tersampaikan pada pengamat
Beberapa Contoh Seni Post Modern
Melisa Anjani
2004420213
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: